Senin, 13 April 2015

Man Jadda Wajada


Man Jadda Wajada

Suasana pagi ini tidak seperti yang diharapkan oleh Fifi, karena sejak subuh tadi ketika Fifi bangun untuk sholat subuh, langit sudah memuntahkan isinya ke bumi. Sehingga Fifi khawatir akan bertahan sampai siang hari. Ternyata yang dipikir Fifi benar, hujan terus turun hingga jam 2 siang. Sebelumnya Fifi berharap semoga hujannya berhenti sebelum siang. Walaupun hujan terus mengguyur kota hingga siang, itu tidak menyurutkan niat Fifi untuk melihat sahabatnya bertanding. Ya…hari ini adalah hari final pertandingan Fino dan Fifi sudah berjanji akan melihatnya.
Kriiiing..kriing….kringg……
Bunyi handphone Fifi terus terdengar sehingga Fifi berhenti membaca novel.
“Fi, kamu dimana?”
“Aku masih dirumah no, hujan deras banget”
“Iyaaa, aku tau. Tapi kamu jangan sampe gak dateng ya? Kamu kan tau ini pertandingan final aku di tahun ini”
“Iya..iya… kamu tenang aja deh, ntar lagi aku siap-siap”
“Apa??? Kamu belum siap-siap dari tadi?? Aduh aku udah di depan rumah kamu nih, cepet deh bukain pintu”
“Haaaaahh……..??? Eh kamu mah gak bilang-bilang kalo udah mau on the way.”
“Yaudah lah. Bukain aja pintunya cepeeeet, aku kedinginan nih.”
“Iya..iyaaaa…bawel”
Fifi pun segera membuka pintu dan melihat Fino tersenyum lebar dihadapannya. Inilah yang selalu dirasakan Fifi setiap melihat senyum Fino, senyum yang membuat hatinya merasa tenang dan hangat, yaitu senyum seorang sahabat. Setelah mempersilahkan Fino masuk dan membuatkan minuman hangat, Fifi bersiap-siap untuk pergi ke pertandingan Fino.


“Waahhh selamat ya no, akhirnya kamu menang juga.”
“Iya makasih ya sudah datang”
“Iya, sama-sama, kita kan udah temanan dari kecil jadi ya wajarlah aku nonton pertandingan final kamu hari ini. Ngomong-ngomong kamu keren banget tadi.”
“Iya Fi, kamu emang sahabat aku yang paliiiiing baik dan paliiing ngertiin aku. Makasih ya udah ada buat aku selama ini.”
Fifi hanya tersenyum membalas pujian Fino.
Mereka berjalan meninggalkan stadion dengan perasaan senang dan gembira, mereka pulang bersama dan Fino mentraktir Fifi makan malam, sekaligus berterima kasih kepada Fifi. Selama diperjalanan mereka saling bercerita tentang mimpi mereka setelah tamat SMA, Fino ingin melanjutkan sekolah di sekolah bola ternama di Jakarta, yang menurut Fino akan membawa nya pada mimpi-mimpi yang selama ini ingin di wujudkan. Yaitu Fino ingin menjadi pemain bola dunia sehingga bisa membanggakan keluarga dan bangsa. Sementara Fifi ingin melanjutkan kuliah di Universitas nomor satu di Indonesia, ia ingin menjadi seorang dokter yang bisa membantu orang yang sedang tidak berdaya. Sebenarnya cita-cita awal Fifi bukanlah menjadi dokter, yaitu menjadi pengacara. Semenjak ibunya meninggal karena penyakit yang Fifi sendiri tidak tahu apa penyakitnya karena waktu itu Fifi baru berumur 4 tahun, sejak itu Fifi ingin sekali menjadi seorang dokter dan bisa membantu orang-orang yang disayanginya.
            Keesokan harinya disekolah
            Fifi terdiam di dalam kelas sambil menatap buku yang ada dihadapannya, tetapi tatapannya bukan pada buku itu, tatapannya kosong. Ia sedang memikirkan bagaimana cara agar mimpi yang selama ini ingin diwujudkannya dapat tercapai. Kalau hasil belajarnya sendiri kurang memuaskan. Untuk masuk Universitas ternama dan jurusan kedokteran bukanlah hal mudah, Fifi tau itu. Dia terus memutar otak agar nilai-nilai nya bisa mencapai standar kelulusan fakultas kedokteran. Dia tidak bisa belajar sendirian, dia tidak bisa memahami materi pelajaran dengan hanya melihat dari contoh yang dituliskan dibuku. Dia tahu kemampuan belajarnya memang kurang baik jika memahami sendiri, dan mau tidak mau dia harus mengikuti les tambahan supaya dia bisa mewujudkannya.
            Setibanya dirumah, Fifi langsung mencari ayahnya dan menceritakan segala hal yang dipikirkannya disekolah tadi siang. Awalnya ayah Fifi mengira bahwa cita-cita Fifi untuk menjadi dokter adalah cita-cita anak kecil yang sedang sedih karena kehilangan ibu. Tetapi ayahnya salah, sejak dia melihat ibunya terbaring sakit dan dokter tidak bisa membantu sehingga ibunya pergi meninggalkan Fifi di usianya yang masih sangat kecil, dia memang benar-benar bertekat untuk menjadi dokter. Ayahnya tersenyum melihat usul Fifi tadi dan langsung menyetujuinya.
Kegiatan rutin Fifi setelah pulang sekolah adalah melanjutkan les tambahan seminggu tiga kali sampai tes masuk Perguruan Tinggi dimulai. Begitu juga dengan Fino, Fino semangat menjalankan kegiatan sekolah bola nya setelah pulang sekolah, tetapi tidak lupa untuk belajar, karena beberapa bulan lagi mereka akan mengikuti ujian akhir sekolah yang menentukan bagaimana masa depan mereka.

            Tidak terasa ujian akhir pun akan diselenggarakan. Dengan perasaan gembira Fifi semangat berjalan menuju sekolah, Fifi yakin pada kalimat bahasa arab “Man Jadda Wajada” yang artinya “Siapa Yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil”. Karena dia sudah melaksanakan kesungguhan hati nya untuk bisa menggapai mimpi, dan dia juga sudah berusaha sampai titik maksimal yang dimilikinya. Fino dengan perasaan deg-degan berjalan kesekolah berharap apa yang dipelajarinya bersama Fifi sesuai dengan ujian yang akan dihadapinya nanti. Dalam perjalanan kesekolah mereka berpapasan di depan kompleks rumah dan berjalan bersama menuju sekolah. Ujian dilaksanakan selama empat hari. Empat hari yang paling menentukan bagi para siswa/siswi SMA yang belajar selama tiga tahun untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Empat hari musim ujian pun usai, perasaan lega menyelimuti para siswa/siswi yang telah selesai menghadapi ujian yang paling menentukan ini. Sekarang waktunya untuk bersiap-siap menghadapi perang nasional selanjutnya, yaitu perang masuk Perguruan Tinggi Negeri.

            Sebelum mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri secara tertulis, ada yang disebut dengan SNMPTN yaitu seleksi masuk melalui undangan. Setiap siswa/siswi diseleksi berdasarkan nilai raport dari semester satu sampai semester tujuh. Tetapi Fifi tidak lolos mengikuti tes undangan tersebut. Seminggu lagi ujian tes tertulis akan di adakan, dengan semangat yang membara Fifi terus belajar untuk menghadapi ujian tertulis.
Tidak terasa waktu yang di nanti-nanti tiba, Fifi melangkah menuju lokasi tes dengan was-was. Dia takut akan gagal dalam mengikuti tes karena soal-soal tes tersebut terkenal sangat sulit. Tetapi dia terus meyakinkan dirinya dalam hati supaya tidak kalah sebelum berperang. Langkah pertama yang dilangkahkan kakinya akan membawanya pada hasil yang sesuai dengan usahanya, dia percaya itu. Sembari menunggu angkutan umum melewati jalan raya di depan rumahnya Fifi terus membaca buku sambil berkhayal semoga soal yang akan di selesaikannya nanti sesuai dengan yang selama ini di pelajarinya. Tes berlangsung satu hari penuh dan hasilnya di umumkan satu bulan setelah tes dilaksanakan.

            Satu bulan kemudian…
            Fifi dan Fino sedang asik bermain bersama teman sekolah mereka, sebelum mereka semua berpisah untuk menggapai cita-cita. Mereka berkumpul bersama untuk melihat hasil tes bulan lalu yang akan di umukan pada hari ini. Sebelum membuka web Perguruan Tinggi yang mereka pilih, mereka berdo’a agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Pertama yang membuka adalah Fino ternyata dia tidak lolos ujian tes Perguruan Tinggi, tetapi Fino tidak terlalu kecewa karena yang diharapkannya adalah lolos seleksi sekolah bola yang selama ini diinginkannya. Pengumuman seleksi sekolah bola juga diumumkan dihari yang sama, dengan tidak ragu lagi Fino membuka web sekolah bola tersebut dan hasilnya tidak seperti yang dia harapkan. Dia sangat kecewa, sedih, kesal, dan marah, tetapi dengan adanya teman teman yang selalu ada untuknya Fino terhibur dan tidak mau menyalahkan diri sendiri.
Selanjutnya diteruskan oleh teman-teman mereka yang lain, dan sekarang tibalah waktunya untuk Fifi yang melihat hasil tesnya. Dengan perasaan campur aduk Fifi membuka web tersebut dan ternyata hasilnya sesuai, Fifi sangat senang dan tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan yang memberikan hasil sesuai dengan usahanya. Teman-teman Fifi yang lain ada yang lolos juga ada yang tidak, mereka semua saling menguatkan dan saling memberi semangat.
Walaupun Fifi lolos seleksi, dia tetap bersemangat menemani Fino keesokan harinya. Fifi mengajak Fino untuk mendaftar masuk Perguruan Tinggi di jalur berikutnya. Fifi yakin langkah pertama mereka pada pagi hari ini akan membawa Fino menggapai apa yang diinginkan oleh Fino. Sama seperti keyakinan Fifi saat dia akan mengikuti tes Perguruan Tinggi pada waktu itu.